Ulasan Seputar Masyarakat dan Lingkungan Toba dan sekitarnya

Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII ? (Majalah TAPIAN Edisi November)

November 27, 2008

Gambar majalah tapianBagi masyarakat Batak, Sisingamangaraja XII adalah heroisme sekaligus spiritualisme. Mereka bangga mengenang Baginda Raja yang bisa bertahan sampai 30 tahun dalam memerangi sang penjajah bermata putih, sibottar mata. Belanda! Raja yang bersumpah lebih baik mati daripada menerima kata damai dan tawaran menjadi sultan, asalkan dia berpangku tangan melihat tanah dan kaumnya ditindas. Dia adalah juga seorang malim, orang suci, yang menjadi penghubung hati orang-orang Batak dengan sang maha pencipta mereka, Debata Mulajadi Na Bolon.

Sisingamangaraja XII diangkat pemerintah sebagai pahlawan nasional. Tetapi, bukan semata-mata karena itu TAPIAN dalam edisi (kepahlawanan) November ini menyajikan tulisan agak panjang mengenai tokoh legendaris dari Bakkara itu. Yang layak diingat adalah bahwa dia tak pelak lagi merupakan pejuang yang telah memberikan sumbangan yang tak diragukan lagi dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Sementara predikat yang sama mungkin saja telah jatuh kepada seseorang yang justeru telah melancarkan invasi terhadap etnis lain, dan dengan demikian memberikan kemudahan kepada Belanda untuk menguasai Nusantara. Artikel dengan judul ”Warisan Raja Namaruhum, Namarhatua” kami berharap agar beberapa warisan-warisan dari Sisingamangaraja XII dapat terus dirawat. Warisan yang tidak hanya berbentuk fisik melainkan berbentuk warisan hukum dan gerakan spiritualitas Parmalim. Tulisan utama Sisingamangaraja XII di edisi November ini tidak hanya menceritakan proses perjuangannya melawan kolonial, tapi juga dibalik semua itu ada petemanan yang indah antara etnis Batak dan Aceh yang sangat dikhawatirkan oleh Belanda, migrasi (selama ini sering dinyatakan lari) Sisingamangaraja XII ke Dairi, termasuk juga pengkhianatan terhadap raja ini. Beruntung kami berhasil menyajikan wawancara dengan salah seorang cucu kandung dari Sisingamangaraja XII yang masih ada, Raja Napatar Sinambela. Sehingga tulisan yang semuanya berada pada artikel Sudut Pandang, sengaja kami beri tema besar di Edisi ini ”Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII ?”

Undang-undang anti pornografi telah disahkan. Meskipun demikian saat menjelang pengesahannya banyak kontroversi. Terakhir muncul di beberapa daerah, yang menyatakan menantang pengesahannya. Dirubrik Serbaneka, ada uraian tentang asal-usul kata pornografi, dan bahwa yang memaksakan disahkannya rancangan undang-undang itu hanyalah gairah yang tak tertahan pada sekelompok kecil orang. Sejarawan Hilmar Farid memaparkan dengan tulisan ”RUU Porno : Hasrat Besar Kelompok Kecil”

Keuletan dan keteguhan dalam memberikan makna bagi kehidupan seseorang bisa menjadi ilham atau malahan pendorong bagi orang lain. Silakan menikmati perjalanan karier sutradara film Edward Pesta Sirait dalam rubrik Sosok. Sementara dalam rubrik Dari Rantau kami sajikan kisah sukses Raja Utara Simanulang, yang mengadu nasib sebagai tukang tambal ban, namun berhasil menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Dan dengan bermodal angin, dia bersama istrinya sudah pernah menginjakkan kaki di Yerusalem.
Para pembaca yang terhormat, kalau sudah membaca kisah si tukang tambal ban yang bernama Raja itu, terimalah permintaan maaf dari kami, karena kisah sukses itu semestinya sudah dimuat dalam TAPIAN edisi kemarin. Sekali lagi maaf.

Tak sedikit keluh-kesah mengapa Tanah Batak tetap tertinggal dalam kemiskinan. Di rubrik Kritik ada uraian tentang koperasi agribisnis sebagai basis ekonomi rakyat. Tulisan itu ditutup dengan saran jika gerakan koperasi itu dipraktekkan dengan berpegang pada semboyan marsipature hutana be, maka dalam tempo 5-10 tahun pedesaan di Tanah Batak akan maju dan kemiskinan akan teratasi.

Dari sebuah ayat Al Quran dapat dipahami bahwa tidak ada perbedaan antara manusia yang sehat dan sakit, termasuk mereka yang kena HIV/AIDS. Yang membedakan manusia hanyalah prestasi takwa. Belum tentu penderita HIV/AIDS lebih rendah kualitas takwanya dari yang bukan penderita. Demikian pula sebaliknya. Begitulah ungkapan seorang penulis yang Islami di rubrik Spiritualitas dalam memandang bagaimana para penderita penyakit yang mematikan itu harus diperlakukan secara manusiawi. Karena Islam, katanya, adalah agama yang memuliakan manusia. Begitulah intisari tulisan yang disampaikan oleh Siti Musdah Mulia, muslimah pertama yang menulis buku anti poligami, dengan tulisan yang berjudul “Mewaspadai HIV/ AIDS Perspektif Islam”.

Tak bosan-bosannya Om Galung tampil di rubrik Catur, dengan studi permainan akhir yang mencerahkan. Dan ada lagi sejumlah tulisan yang sayang kalau ditinggalkan. Termasuk pesona Danau Toba di rubrik Wisata dan tentang penyakit gatal-gatal yang kembali menyerang penduduk dan diduga karena limbah pabrik bubur kertas yang terletak tak jauh dari Porsea.

Majalah TAPIAN, kami berangkat dari budaya batak menuju budaya untuk kemanusiaan. Dengan semangat keberagaman dan toleransi antar setiap etnis dalam terus merawat “Bhinneka Tunggal Ika”

Salam Hormat
Chris Poerba, Wartawan dan Penggiat Majalah TAPIAN

Pencarian pada artikel ini:

Tulisan berhubungan lainnya yang mungkin ingin anda baca:

Andai Bulan bisa Ngomong….
Media Online Bersama Toba dot Com - Sebuah Fenomena dua buah bintang dan bulan sabit berkumpul bersama di langit berbentuk wajah manusia yang

Pemeliharaan dan Perbaikan Taor Sipangolu miliknya Raja Sisingamangaraja XII, asal jadi..!
Toba Samosir, Media Online Bersama Toba dot Com - Proyek pemeliharaan dan perbaikan Peninggalan sejarah Taor Sipangolu miliknya Raja Sisingamangaraja XII di Desa Sibarani nasampuluh

Ketika Presiden RI, Ir Soekarno di Balige
Media Online Bersama Toba dot Com - Posisi penting Sisingamangaraja dalam perjuangan pembebasan melawan kolonialisme Belanda ditunjukkan oleh Presiden Soekarno dengan sebuah isyarat nyata.Pada tahun

Golongan si Raja Batak Parbaringin Malim Martonggo, untuk melindungi Tanah Batak dan Masyarakat Batak.
Golongan Siraja Batak Parbaringin Malim Marsada dengan ketuanya Raja Sampuara Marpaung beserta seluruh anggotanya yang datang dari seluruh Nusantara melakukan doa (tonggo) dan permohonan kepada

Toba Link
Blogger Batak Poltak Simanjuntak Edison Manik Andos Marbun Merus Napitupulu Rapolo Naipospos Pdt Daniel Taruli Asi Harahap Kartun Batak Kamus Batak Toba Anak Tarutung Rap Mekkel Marudut Napitupulu Lukman Siagian, SH Adieska Pasaribu Dave Simamora Rosa Manalu Ruben Manik Rikardo Simamora Julita Manik Mardiana ManikKompilasi

Komentar

2 Responses to “Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII ? (Majalah TAPIAN Edisi November)”

  1. Trimanto on Oktober 9th, 2009 17:42

    Good n perfect.

  2. Hot maruli sudianto sihite. Putra sibongkare yang py pakkat. Bk(banyak karet,bung karno) on September 4th, 2010 17:38

    Hadirnya sisingamangaraja setelah yang ke 12 atas ijin semua raja(sisingamangaraja, adipati raja, dan rajadiraja) maka akan dinobatkan sisingamangaraja yg ke 1. Yg kini berada di pandegelang(toga bosi) seorang polri yang dikawal 49(1orangnya 3pengawalnya dan 9 walinya) di polsek keraton. Yg dibanten di sebut prabu siliwangi telah bertemu dgn ibu ratu walminah banten. Dari bantenlah dia akan dtg ke bakkara membawa 6 gajah(5anak bung karno, dan 1 pasukan baduy lengkap dgn kudanya pasukan tempurnya) maka akan turun dr utara(d.toba) dan raja dr timur(luar negri) mengadili orang2 yang sok pangkat,jabatan,harta. Setelah dia ke baduy mengambil titipan air laksa yang diambil dr mata air desa laksa pakkat dan dia menyerahkan ulos putih ke baduy. Maka dr situlah dia akan memerintahkan utusan perang ke anak bung karno, bahwa rajanya dah tiba dari tanah batak.

Berikan komentar dan masukan anda





Silahkan bergabung dan berdiskusi dengan pengunjung Bersamatoba.com lainnya di Forum Bersama Masyarakat Toba

Majalah Luar Negri Gratis
Gambar danau toba batak