Ulasan Seputar Masyarakat dan Lingkungan Toba dan sekitarnya

Poligami dalam Masyarakat Batak

Januari 6, 2010

poligamiDALAM masyarakat Batak zaman dulu, sebelum kekristenan memasuki Tano Batak, poligami atau beristeri lebih dari satu adalah masalah biasa. Alasan utama yang mengabsahkan tindakan poligami dari seorang suami adalah apabila istri pertama tidak atau belum berhasil melahirkan anak setelah beberapa lama perkawinan mereka. Atau istri pertama itu melahirkan anak-anak perempuan tapi tidak dikaruniai anak laki-laki. Dalam situasi demikian, seorang istri akan memberikan persetujuannya, bahkan memberikan dorongan untuk kawin lagi dengan perempuan lain untuk mendapatkan anak-anak ataupun untuk mendapatkan anak laki-laki. Sehingga poligami pada zaman itu adalah sah menurut aturan adat Dalihan Natolu.

Setelah kekristenan menggantikan religi masyarakat Batak kuno, aturan gereja dengan tegas melarang poligami. Warga yang melakukannya akan dikucilkan (dipabali) dari keanggotaan gereja.
Secara umum dapat disaksikan dalam masyarakat kita bahwa poligami selalu menuai masalah, baik dalam berhadapan dengan hukum negara, hukum gereja maupun hukum adat, serta hubungan-hubungan kekerabatan. Penghayatan perumpamaan itu tidak serta-merta menghilangkan masalah yang timbul dalam hubungan poligami.

Dilihat dari segi hukum, masalah yang paling banyak dihadapi dalam kasus poligami adalah menentukan status atau posisi istri-istri sehubungan dengan hak-haknya sesuai dengan hukum adat serta posisi anak-anak yang dilahirkan. Dalam rangkaian itu hukum adat mengenal dua jenis status istri kedua dalam poligami, yaitu: Imbang, di mana status istri-istri itu adalah sama dalam hukum adat; jenis kedua tungkot, di mana istri kedua tidak mempunyai hak apa-apa. Ia sepenuhnya tunduk kepada istri pertama. Anak-anak yang ia lahirkan dianggap sebagai anak-anak dari istri pertama dan menggunakan nama anak pertama menjadi namanya sendiri, yaitu Nai Anu (Mamak Anu).

Masyarakat Batak menganut sistem kekerabatan patrilineal, maka garis kekerabatan itu akan selalu ditarik dari titik pusat ayah, tidak dari ibu. Oleh karena itu dengan mudah dapat dikatakan bahwa hubungan abang-adik pada anak-anak dari seorang ayah adalah jelas, harus dilihat dari siapa yang lahir lebih dulu. Jika anak yang lahir pertama adalah laki-laki dan ia menjadi panggoaran (pembawa nama) bagi ayahnya (menjadi Ama ni Polan – misalnya), maka anak itulah anak sulung (sihahaan), yang mengemban sahala sihahaan.

Dengan demikian, jika dihubungkan dengan status istri kedua seperti dijelaskan di atas pada status imbang, apabila istri kedua lebih dahulu melahirkan anak, maka anak itulah sihahaan yang menjadi panggoaran ayahnya. Semua anak-anak yang lahir sesudah itu baik dari istri pertama maupun istri kedua adalah adik-adiknya dengan berpatokan pada siapa yang lahir lebih dulu. Sedangkan bagi status tungkot sudah jelas bahwa semua anak-anak yang dilahirkan oleh tungkot diperhitungkan sebagai anak-anak dari isteri pertama. Sehingga hubungan abang-adik dari anak-anak itupun menjadi jelas. Dalam hal ini secara kasar dapat dikatakan bahwa fungsi istri kedua yang berstatus tungkot hanyalah untuk melahirkan anak-anak (child producer) bagi istri pertama.

Dewasa ini, sejak sebagian besar masyarakat Batak memeluk agama Kristen, poligami sudah jarang sekali ditemukan karena gereja memang tidak memberikan toleransi apapun atas kasus demikian. Jikapun ada satu-dua, mereka bukan saja dikucilkan dari keanggotaan gereja akan tetapi juga dari masyarakat adat Dalihan Natolu

Bah.. songoni do tahe ateh…. Sambil tabereng ma jo kartun ni si Jephman: Poligami Merusak Adat Yang Indah

Tulisan berhubungan lainnya yang mungkin ingin anda baca:

Golongan si Raja Batak Parbaringin Malim Martonggo, untuk melindungi Tanah Batak dan Masyarakat Batak.
Golongan Siraja Batak Parbaringin Malim Marsada dengan ketuanya Raja Sampuara Marpaung beserta seluruh anggotanya yang datang dari seluruh Nusantara melakukan doa (tonggo) dan permohonan kepada

Konser Batak Music In Harmony
Inilah pertunjukan yang spektakuler Konser Batak Music in Harmony! Konser yang didukung oleh sejumlah pemusik Top Nasional dan Batak ini akan menampilkan musik Batak dalam

Acara adat, Perempuan Batak jinjing Tandok
Media Online Bersama Toba dot Com - Perempuan Batak berbaris dan manortor seraya menjinjing Tandok yang berisi beras dalam upacara pesta adat di Tanah Batak.

Masyarakat Batak, Etika itu berbeda dengan Hukum.
Oleh, Ir.Ivan Napitupulu Blogger Batak, Balige, Kab- Toba Samosir, Media Online Bersama Toba dot Com = Apa tujuan seorang produsen dalam berusaha? Jawabnya

Perempuan Batak, ada dimana-mana..!
Disamping mengurusi pekerjaan domestik rumah tangga, perempuan Batak terkenal gigih dan ulet bekerja untuk membantu suami mencari nafka.Bertani, mencari ikan, berdagang, mengajar, menjadi bidan, perawat,………ya,

Komentar

19 Responses to “Poligami dalam Masyarakat Batak”

  1. P. Sihotang on Januari 7th, 2010 09:21

    Na kumat do ho napit? Aib keluargam ditulis ho dison.
    Manang na lupa do ho di istri dohot anak pertamamu na nitinggalhon mi?

  2. Nicole br. batak on Januari 8th, 2010 15:47

    sekarang klo pertanyaan serius seperti ini;
    apa yg harus dilakukan seorang istri (wanita) untuk menghindari POLIGAMI, karena kita tahu sebagai orang batak Kristen sangat dilarang untuk bercerai dengan alasan apapun juga dan jika ini menjadi acuan melakukan poligami oelh pihak laki2 (suami), apakah yang harus dilakukan sang istri?!

    rgds,
    -vernicole-

  3. san on Januari 9th, 2010 14:34

    Agama kristen ternyata sangat berperan untuk memperbaiki adat batak yang dianggap salah menurut kristen

  4. Pool Sei Sikambing on Januari 12th, 2010 06:02

    Toho do i lae napit, unang pola pamer ho ala nga beristri 2, gabe sude par Balige mamboto keluargam na so beres, dohot istrim si goyang pinggul anggo tu pasar, alai tong do ditulis ho dison.

    Sotung lupa muse mulak tu Toko Hidup
    Hahahaha…

  5. dongan pardosi on Januari 20th, 2010 14:24

    poligami ya tidak boleh…. tapi ada juga orang bilang boleh karena perempuan lebih banyak dr laki – laki… he.. he …he….

  6. theo simbolon on Januari 31st, 2010 23:05

    emang benar, karena kekristenan yg datang ke tanah batak,bukan untuk merusak tatanan adat batak yang kita punya, justru MEMPERBAIKI DAN MENYEMPURNAKANNYA.

  7. Simbad on Februari 1st, 2010 11:25

    Kalau boleh saya tambahi, sebenarnya poligami merupakan upaya legitimasi dari perselingkuhan.
    Coba dipikir, bagaimana bisa seorang suami berpoligami kalau tidak selingkuh dulu, paling tidak untuk mengenal wanita lain yg bukan istrinya. (kecuali kalau dijodohkan dengan wanita lain).

    Jadi.. selingkuh dulu… kalau sama2 cocok barulah selanjutnya dipoligami

  8. theo simbolon on Februari 2nd, 2010 10:29

    jd, siapa yg paling berperan terjdinya poligami? pria atau wanita.,,

  9. rubenpranto on Februari 3rd, 2010 22:59

    Sebenarnya poligami boleh-boleh aja tuch, bagi orang non Kristen. Tapi apa poligami itu membawa berkah… enak yang sesaat, mungkin saja, tapi hal lain belum tentu…

  10. Parbariba Pulau on Februari 6th, 2010 00:44

    Menurut saya Poligami itu sah-sah saja, asalkan Adil terhadap kedua Instri dan terhadap anak dari Kedua Istri itu.
    Walaupun menurut agama salah tapi klo kita jalankan dengan penuh tanggungjawab, adil tanpa membedakan mana istri pertama dan kedua, hal itu sangat wajar menurut saya.

  11. theo simbolon on Februari 7th, 2010 09:39

    POLIGAMI bentuk dari penghianatan CINTA, bagi saya walau dipandang dari sisi man pun, tdk ada nilai positif nya,………….!

  12. dainty on Februari 24th, 2010 15:24

    agama manapun melarang poligami…..karena dimata Tuhan itu adalah perzinahan.hanya sekarang manusianya…yang menghalalkan segala nya,,,,,makanya poligami di sah kan bagi orang2 tertentu…., padahal seluruh agama tidak ada ajaran berpolygami…….

    jika demikian bagaimana situasi sekarang yang polygami di halalkan? itu karena manusia sudah pada bejat …alias hidup dalam nafsu yang berlebih,,,,segala sesuatu yang berlebih pasti tidak baik ujungnya.

    ini menandakan dunia sudah bobrok……alias getas….atau rapuh……
    bertobatlah yang berpolygami………karena itu zinah dihadapan Allah……baca donk perjanjian baru,,, memandang dan menginginkan orang dalam hati saja sudah zinah …apalagi berpolygami……….

  13. ruben on Februari 27th, 2010 09:47

    setuju deh dengan dainty…….,,, apalagi kita hidup bukan dijaman dulu lagi yang tidak ada agama,,,, tapi jaman dulu raja Salomo yang memiliki banyak gundik pun mengatakan ,,,bahwa semua sia2 loh….???? trus diperjanjian baru spt yang dikatakan dainty itu…….,,, “”"”poligami adalah usaha menjaring angin……”"????

  14. leonard napitupulu on April 19th, 2010 00:38

    Saya kira polygami adalah sesuatu yang merupakan ego daripada manusia yang berjenis kelamin Laki-laki, dimana sang Lelaki tersebut dapat mempunyai isteri lebih dari satu. Untuk kemudian ada keseimbangannya secara naif dari pihak Perempuan dengan melakukan Polyandri dimana sang Perempuan dapat mempinyai suami lebih dari satu pula.
    Untuk alasan pembenaran maka masing-masing pihak membuat begitu banyak serta beragam argumentasi yang meminta dukungan.
    Jikalau kita lihat perkembangan secara kemanusiaan khususnya dengan adanya perbedaan jenis kelamin yaitu Laki-laki dan Perempuan masih ada lagi persoalan yang telah ditelaah secara ilmiah dimana pada saat tertentu jenis kelaminnya Laki-laki tetapi untuk kemudian hari dia berganti kelamin menjadi Perempuan demikian juga sebaliknya. Hal tersebut menuai banyak sekali tanggapan.
    Kembali kepada masalah Polygami, sang penulis meninjau dari masa sebelum agama Kristen masuk di tanah Batak, sampai kepada tatanan status anak yang dilahirkan. Sesudah agama Kristen masuk dan berkembang di tanah Batak penganut Polygami berkurang oleh karena sanksi-sanksi yang diperoleh jika melakukannya.
    Saya sama setujunya dengan kata-kat Polygami merusak adat yang indah. Sebab sepengatahuan saya tentang adat Batak belum pernah saya mendengar pesta perkawinan secara adat Batak bahwa mempelai laki-laki melaksanakan perkawinan untuk kedua kalinya akan tetapi istri pertama masih hidup serta status tidak dicerai atau berpisah. Merusakkah ? Horas !!!

  15. marie on Mei 19th, 2010 13:06

    Dari awal penciptaan manusia, Tuhan menciptakan 1pria dan 1 wanita, BUKAN 1 PRIA dengan BEBERAPA WANITA.
    Adapun melonjaknya jumlah wanita lebih banyak dari pria alias tidak seimbang adalah disebabkan oleh DOSA2 PERJINAHAN yang berakibat rusaknya struktur tatanan jumlah manusia berpasang2an.
    Makanya jangan cari2 alasan untuk poligami mengatasnamakan jumlah wanita yang tidak seimbang, STOP POLIGAMI supaya kehidupan di bumi lebih baik seperti awal Tuhan menciptakan BUMI ini.

  16. goklas mardo tobing on Juli 23rd, 2010 00:53

    Tidak ada alasan untuk melakukan polygami ataupun polyandri bagi orang yang sadar,bahwa dirinya adalah mahluk yang tidak sempurna,bukan supermen( yang ada supermi……!),

  17. Bilwijer Hutabarat on Juli 31st, 2010 21:32

    Bagaimana jika suami kurang bertanggung jawab. Seperti tau nya di lapo, pulang marah2, anak dan istri ke hauma untuk cari makan, mangombo di hauma orang. berhakkah si istri minta cerai?

  18. SP. Nainggolan on Agustus 10th, 2010 14:52

    Ndang boi sirang molo ndang sinirang ni hamatean.

    Molo amata manang inata i mangulahon na so denggan, dosa do i.
    Jadi sai mulak ma pardosa i tumadingkon dalanna lilui.
    Boa carana : Rap ta jaha ma bible i jala ta u lahon. Pangido tu Tuhan ni Gogo lao mangulahon na denggan.
    DAME NA SUMURUNG MA DI HITA SALUHUTNA. AMEN.

    Sian Tano Parserahan.

  19. RAKYAT on Agustus 31st, 2010 14:46

    Suami harus sayang kepada istri dan istri harus hormat pada suami.

    OK

Berikan komentar dan masukan anda





Silahkan bergabung dan berdiskusi dengan pengunjung Bersamatoba.com lainnya di Forum Bersama Masyarakat Toba

Majalah Luar Negri Gratis
Gambar danau toba batak