Ulasan Seputar Masyarakat dan Lingkungan Toba dan sekitarnya

Jakarta “pembunuh” tradisi-tradisi lokal.

Juli 20, 2008

Balige, Tobasa Media Online Bersama dot Com – Jakarta bermula dari sebuah Bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi Bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda yang beribu kota Pajajaran dan terletak sekitar 40 kilometer dipedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang.
gbrjkt.JPG
[ Ditulis Ivan Napitupulu Blogger sian huta Balige – Kab.Tobasa, Sumut - parjalang sian Jakarta na mulak tu Bona ni pasogit ]

Pada 1970-an, kelompok band Koes Plus pernah mengeluarkan sebuah lagu bertajuk “kembali ke Jakarta” yang begitu laku keras di pasaran. Lagu itu mungkin ikut berperan membuat Jakarta menjadi magnet bagi masyarakat di saentro nusantara sehingga menjadikan kota itu sebagai harapan utama kehidupan.

Itulah Jakarta, kota yang banyak menjanjikan dan menawarkan segala kemewahan dunia, kota yang mempresentasikan modrenitas masyarakat Indonesia. Ia menjadi cermin kemajuan, sekaligus cermin ketertinggalan paradaban masyarakat Indonesia.

Di kota metropolitan itu, semua aktivitas manusia tumplek blek menjadi satu, mulai dari politik, pemerintahan, ekonomi, industri, pendidikan dan kebudayan. Di kota raya itu pula, pengangguran, kemiskinan, kejahatan, kekerasan, pencemaran lingkungan dan ledakan penduduk.

Pokoknya Jakarta adalah segalanya………., “pembunuh” tradisi-tradisi lokal yang dulu berkembang. Sekarang minuman-minuman semacam wedang jahe atau godo-gado khas Betawi kalah pasaran oleh gemerlapnya “kutahu yang kumau” Sprite atau “jagonya ayam” Kentucky Fried Chiken.

Jakarta menjadikan masyarakatnya tidak kreatif dan tidak mandiri. Semuanya hanya berani mengafirmasi segala apa yang ditawarkan oleh produk-produk, tanpa berani menciptakan budaya sendiri. Budaya-budaya local telah hilang, seiring dengan hegemoni budaya asing. Maka, keterasinganlah yang hadir.

Budaya yang ada memerosotkan nila-nilai kemanusiaan pada stadium terendah, dan Jakarta pun menjadi kontradiksi dalam dirinya sendiri.(*)

Tulisan berhubungan lainnya yang mungkin ingin anda baca:

Ketabahan hati sang Nelayan, di Danau Toba.
>>Oleh: Elisabet Simanjuntak >> Nelayan merupakan pekerjaan turun temurun >> Nelayan menangkap ikan dengan jaring net diatas sebuah Sampan >> Mata pencaharian desa Meat adalah, Nelayan, Bertani

Ulos Batak, mendapat perlindungan secara Hukum.
>> Hak Cipta, selama pencipta hidup >> Hak Budaya, selama Budaya itu ada. Ulos Batak adalah sebagai identitas, ada orang mengatakan ulos Batak adalah sebagai Budaya, Adat,

SMTK SETIA Narumonda Tobasa, aksi damai di DPRD.
Balige, Media Online Bersama Toba – Ratusan Siswa/i SETIA atau Sekolah Menengah Teologi Kristen Cabang Narumonda Kecamatan Siantar Narumonda Kabupaten Toba Samosir mengadakan aksi damai

Kartu Axis dan 666, Kartu Setan Pembunuh
“08669846554 tak blh angkat atau tanda angka merah! diangkt lampu rmh lgsg mati n orgnya jg lgsg mati! Sdh 7 org twas, sebarkan ketmn2 yg blm tahu!! Jangan

Lowongan terbaru PT.INTERJADI ASIA
PT Interjadi Asia is the foreign subsidiary of a Malaysian public-listed company. It is a new company in Jakarta and Medan and it is

Komentar

2 Responses to “Jakarta “pembunuh” tradisi-tradisi lokal.”

  1. Jonni Gultom on Juli 21st, 2008 19:44

    Saya adalah putra jl Patuan Anggi pasar Balige,
    Kurang setuju dengan pendapat lae Ivan Napitupulu, beliau mengatakan bahwa Jakarta menjadikan masyarakatnya tidak kreatif dan tidak mandiri, Persaingan hidup yang begitu dasyat di Jakarta memaksa masyarakatnya putar otak tujuh keliling yang setiap saat harus memaksimalkan ide-ide baru untuk dapat bersaing menghasilkan uang, siapa yang kreatif dialah pemenangnya.
    Dari hal tersebut timbul kemandirian yang tidak harus tergantung pada orang lain dan harus berjuang terus.
    Balige akan sangat lambat menjadikan masyarakatnya kreatif bila masih tergantung dengan kekeluargaan dan kapan mandirinya ???????

  2. junson on Agustus 1st, 2008 11:40

    saya adalah putra asli batak dan asli dari Toba Samosir. saya sekarang sedang kuliah di pekanbaru. Saya sangat sedih sekali melihat orng-orang satu sukubangsa batak di daerah perantauan ini, rata2 dari mereka tidak mengerti bahasa batak atau kebudayayan batak sama sekali.
    bersama ini saya berharap agar kita semua baik orang tua dan sahabat agar berbagi cerita tentang budaya batak dan melestarikan budaya batak. Terutama bagi setiap keluarga yang di perantauan dmana pun berada agar tetap melestarikan bahasa batak dalam keluarga. Horas madihita sasude. tu sude ganup marsada-sada.
    dan juga saya anjurakan kepada seluruh perantau agar ingot tu bonapa sogit.

Berikan komentar dan masukan anda





Silahkan bergabung dan berdiskusi dengan pengunjung Bersamatoba.com lainnya di Forum Bersama Masyarakat Toba

Majalah Luar Negri Gratis
Gambar danau toba batak