Polri, diantara Aksi demo Mahasiswa dengan Protes Sosial di Negeri ini.
Mei 27, 2008
>>BBM naik, Mahasiswa menolak kebijakan Pemerintah
>>Polri, Serbu ke kampus bakal ada pion-pion yang harus dikorbankan
Apa makna yang kita tangkap dan serap dari peristiwa tindakan aparat kepolisian atas serbuan ke sebuah kampus..?
Menurut hemat kita tidak lain adalah faktor penegakan hukum di Negeri yang tercinta ini hingga sekarang ini masih jauh dari menurut semestinya.
Lihat.., oknum penegak hukum sendiri tidak memanifestasikan penegakan hukum itu menurut semestinya, demikian juga halnya dengan sekelompok masyarakat, juga sudah berani menjabarkan penegakan hukum itu sendiri menurut kemauan sendiri, apalagi kalau penegakan hukum itu dicitrai dengan campur politik.
Inilah dampak negatif dan resiko dari penegakan hukum di Indonesia yang sering bernuansa politik, sehingga dalam penegakannya, tafsiran jadi dapat dikatakan “kabur”, sebab adalah merupakan kenyataan apabila di dunia hukum masyarakat sering melihat adanya campur tangan politik dalam penyelesaian hukum.
Dalam panggung Politik Nasional orang melihat betapa penegakan hukum itu sudah diwarnai oleh kepentingan politik, lihat…!, saja penegakan hukum terhadap pelaku, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (“KKN”), seluruh dunia mengakui Indonesia termasuk salah satu Negara terkorup di dunia.
Akan tetapi tiba pada penegakan hukum, hampir tidak ada oknum yang terkena dengan KKN yang dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya, tidak usah dulu seperti di Negara Cina yang menembak mati para koruptor, ya…, hukuman seumur hidup atau yang menjerakanpun sudah cukup.
Makanya jika ada oknum Polisi yang salah menerjemahkan penegakan hukum di Negeri yang tercinta ini, terkait mahasiswa yang mengadakan demo dengan aksi-aksi protes sosial terhadap kebijakan Pemerintah atas naiknya BBM sebesar 28,7 %, di daerah-daerah lainnya serta jika ada sekelompok masyarakat sipil yang melakukan tindakan kekerasan terhadap Polisi, itu semuanya kita lihat berakar kepada hukum kuasalitas penegakan hukum yang sangat memprihatinkan di Negara Indonesia yang tercinta ini.
Bisa saja anggota masyarakat lapis bawah melihat adanya permainan di tingkat atas untuk merancang bangunan penegakan hukum itu menurut interes pribadi, interes kekuasaan maupun interes politik.
Karenanya warga lapis bawah tidak mempunyai inters tersebut, maka tiba pada suatu saat mereka terpeluang melakukan terjemahan penegakan hukum itu menurut kemauan sendiri.
Makanya kita tidak usah heran, apabila dalam peristiwa serbuan ke kampus-kampus di Negeri ini bakal ada pion-pion yang harus dikorbankan.
Sehingga terjadilah oknum per oknum diposisikan sebagi tumbal alias “kambing hitam” dalam suatu kasus ataupun peristiwa, sebab sepanjang pengamatan kita, di Indonesia hampir tidak pernah atasan tertinggi yang bisa disalahkan.
Kita sangat sedih atas peristiwa serbuan kampus di Negeri ini, akan tetapi secara jujur dan objektif kita juga sangat menolak terhadap serbuan terhadap aparat kepolisian, kita jangan terpancing emosional menilai terhapat peristiwa serbuan ke Kampus dan aksi-aksi protes sosial yang dilakukan para mahasiswa untuk menolak kebijakan pemerintah atas naiknya BBM, untuk itu Ir.Ivan Napitupulu melalui web sitenya yang beralamat di “Bersama Toba dot Com” mengharapkan agar yang salah, harus ditindak menurut prosedur hukum yang sah.
Horas……..! Merdeka………!





anarkis bukan jalan keluar
demmo adalah bagian dari demokrasi
kita harus menerima perbedaan berpendapat
Bukan siapa-siapa yang harus dipersalahkan tapi benginilah baru indonesia !
Namanya juga sistem komando. Makanya ga usah kita pilih lagi yang militer di 2009 ya bang. Payah semua… Ga ada yang becus… Denger2 Kak Rata Sarumpaet mau maju jadi CaPres
D negri ini hukum seakan akan cuma jadi alas pantat aja….
abiz di dudukin,udah gtu aja kya ga ad yang peduli…
ini bukan jaman nya lagi si singa yang selalu menang,dan si siput mungkin yang selalu jadi pecundang….
Hidup mahasiswa!!!!!