Konsensus “Habonaron”
April 26, 2009
Media Online Bersama Toba dot Com - Sulitkah menentukan kebenaran? Filsuf Giambatista Vico (1965) memercayai, sensus communis atau common sense merupakan awal yang baik untuk menjelajah kebenaran dan menjadi dasar bagi konsep kebijaksanaan. Namun, yang kini terlihat adalah perlombaan seni berbicara atau retorika dari pada menyatakan hal yang sesungguhnya..
Kebenaran sendiri terlalu paradoksal dan dilematis diperdebatkan. Akan tetapi, kita harus menyetujui tatanan kebenaran. Konsensus Habonaron harus diletakkan di atas kepentingan publik dan persepsi mereka atas kondisi politik dan hukum yang moralis.
Kebenaran publik tentu menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari pada kebenaran sektarian meski kebenaran publik bisa berubah seiring waktu.
Kita dihadapkan persoalan yang belum terselesaikan oleh agenda demokratisasi pasca-Orde Baru. Pelembagaan civil society yang belum kuat merupakan sebab gagalnya konsolidasi sipil untuk meletakkan batas-batas moralitas yang haus dipenuhi penyelenggara negara.
Perubahan dalam internal institusi, baik eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun konstitutif, cenderung berjalan tanpa kontrol. Yang tampak adalah diorama pertarungan antarkeluarga gajah dan masyarakat menjadi pelanduk yang hampir mati di tengah arena mereka.
Bagaimana melakukan model pelembagaan konsensus? Setidaknya ada beberapa hal penting.
Seperti, memulihkan agenda penguatan civil society yang bisa mengelola perbedaan kepentingan dari berbagai kelompok di dalamnya. Jaminan negara atas perbedaan pendapat harus ditepati. Dalam pembuatan regulasi, hak-hak konstitusional warga atas kebebasan dan pertanggungjawaban harus dikedepankan.
Bukan itu saja, membangun mekanisme keseimbangan kekuasaan dan saling kontrol antarinstitusi negara. Tidak boleh ada institusi yang mempunyai kewenangan lebih besar dari yang lain. Masing-masing harus mempunyai kewenangan sebagai eksekutor. Hal yang penting adalah membuat mekanisme yang mampu meniadakan tawar-menawar antarinstitusi negara dalam rangka membela kepentingan yang bersifat pribadi masing-masing.
Dan Kemudian, meletakkan landasan normatif bangsa dan negara sebagai acuan yang selalu mempunyai relevansi bagi kinerja institusi negara dan bisa dijadikan pegangan. Semangat kebenaran yang berlaku universal bisa menjadi pegangan informal. Hal itu menjelma menjadi suara hati dari nurani yang amat menentukan pilihan-pilihan politiknya.
Para sophistokrat adalah aktor kejahatan yang sempurna. Jangan sampai mereka membuat negara dengan segenap institusinya sebagai panggung dari sandiwara perdebatan tanpa usai. Sementara rakyat hanya menjadi penonton yang harus membayar mahal untuk pementasan yang sama sekali tidak bermutu.
Pencarian pada artikel ini:
- KEBENARAN
- kebenaran konsensus adalah
- contoh konsensus
- gambar kebenaran
- gambar-gambar lucu pancasila ala batak toba
- kebenaran konsensus
- konsensus
- pengertian kebenaran pancasila yang konsensus









Kelahiran Pancasila, Idiologi Pemersatu Bangsa.
>>Pancasila telah berusia 63 tahun >>Masa depan Pancasila ditentukan kemampuan Bangsa IndonesiaDengan gamblang menarik butir-butir Pancasila, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang
Dibutuhkan: Relawan Pendidikan Perdamaian
(perekrutan terus berlanjut selama 18 bulan penempatan para calon di atas usia 25 tahun - gaji Rp 1.150.000,-/bulan + makan, tempat tinggal dan keuntungan repatriasi
Komentar
Berikan komentar dan masukan anda