Mencetak Pemimpin Masa Depan di Pemerintahan Kabupaten Toba Samosir
September 23, 2009
[ditulis Ivan n70 - Blogger Batak parBalige ]
Media Online Bersama Toba dot Com - Masalah regenerasi kepemimpinan adalah hal yang seringkali dihadapi suatu Pemerintahan kabupaten/kota. Pemimpin seringkali belum dapat memaksimalkan dan mengoptimalkan SDM yang sudah dimiliki untuk menggantikannya memegang tampuk kepemimpinan jika ia pensiun atau dipromosikan.
Idealnya seorang pemimpin memang telah memiliki calon-calon penerus yang siap menggantikan dirinya, namun seringkali hal ini tidak menjadi prioritas seorang pemimpin.
Kesalahan umum yang dilakukan suatu pemerintahan kabupaten/kota diawali dengan kelemahan atau bahkan ketiadaan management talent system, yang berfungsi untuk menyaring Pegawai-pegawai yang potensial untuk dikembangkan dan dibina agar siap menempati posisi-posisi kunci di pemerintahan kabupaten/kota, tarlumobi ma i tu Pemerintahan kabupaten Toba Samosir
Akibatnya, seringkali pemimpin menunjuk penerus secara subjektif atau membajak eksekutif dari pemerintahan kabupaten/kota yang lain, yang kompetensinya belum tentu cocok dengan iklim pemerintahannya sendiri.
Jika belum terpikir oleh Anda untuk mempersiapkan generasi penerus, maka mulailah mempersiapkan rencana dari sekarang karena salah satu fungsi seorang pemimpin adalah membentuk lebih banyak pemimpin, bukan menciptakan lebih banyak pengikut [ songon na terjadi di kabupaten Toba Samosir].
Berikut adalah beberapa guidance yang dapat dilakukan Pemerintahan Kabupaten Toba Samosir dalam usaha mencetak pemimpin masa depan.
Namun pada kenyataannya kita hidup dalam budaya yang penuh dengan rasa ‘sungkan’, sehingga seringkali sulit bagi Anda sebagai seorang pemimpin untuk meminta masukan atau kritik secara jujur dari orang yang bekerja di bawah kepemimpinan Anda.
Ada ketakutan bahwa jika mereka mengungkapkan kekurangan Anda di mata mereka secara terbuka, bisa-bisa pekerjaan mereka dipertaruhkan.
Anda tidak mungkin memegang posisi itu selamanya.
Dalam banyak kasus, seringkali pemimpin tidak mempersiapkan penerusnya karena memang tidak ingin digantikan atau merasa takut tersaingi.
Pada kenyataannya, sesungguhnya pengganti memudahkan proses transisi jika sewaktu-waktu Anda dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi. Untuk itu, berbesar hatilah dan pikirkan manfaat jangka panjang jika Anda mempersiapkan successor sedini mungkin. Sebab proses suksesi tidak akan berhasil jika tidak adanya komitmen dari pemimpin itu sendiri.
Menerapkan sistem suksesi yang efektif. Ada banyak sistem yang dapat digunakan dalam proses suksesi, salah satu diantaranya adalah sistem talent pool. pegawai-pegawai yang potensial dikumpulkan dalam satu wadah untuk kemudian dibina dan dikembangkan melalui berbagai cara, misalnya: pelatihan berjenjang, penugasan khusus, job enrichment, dan lain-lain.
Be objective. Untuk memilih siapa-siapa saja yang layak masuk ke dalam talent pool tersebut, hindari subjektifitas.
Jangan biarkan penampilan atau kedekatan secara personal mempengaruhi penilaian Anda terhadap kapabilitas dan kompetensi kepemimpinan seseorang. Lakukan assessment terhadap calon-calon pengganti Anda melalui observasi terhadap performa kerja mereka sehari-hari, misalnya melihat kemampuan mereka memenuhi target dan tenggat keaktifan mereka dalam rapat manajemen. Calon pemimpin biasanya selalu kaya ide dan inovasi dan tidak ragu membaginya dengan orang lain.
Buatlah tim-tim kerja.
Tidak semua pegawai memiliki kemampuan menyampaikan idenya dengan gamblang.
Pegawai yang pendiam dan kalem bukan berarti tidak memiliki potensi kepemimpinan dalam dirinya.
Untuk menimbulkan atau mempertajam potensi tersebut, buatlah tim-tim kerja yang dapat menstimulus jiwa kepemimpinannya.
Adakan training
Pelatihan pengembangan diri atau kepemimpinan baik yang indoor (berupa seminar) atau outdoor (outbond) adalah salah satu cara yang bisa memberi pegawai dengan pengetahuan dan keterampilan praktis tentang kepemimpinan.
Tentu saja training yang diadakan sesekali tidak cukup untuk membuat seorang pegawai yang biasa diperintah dan dipimpin menjadi pemimpin.
Usaha berkelanjutan dari berbagai tips di atas adalah jurus yang bisa membentuk dan mengasah kepemimpinan pegawai calon pengganti Anda.
Ingotma……..,
Seorang pemimpin yang besar adalah mereka yang berhasil melahirkan pemimpin baru yang lebih besar dari apa yang mereka capai.










Pendapat Tulang na 70 memang bagus soal cara mencetak pemimpin di masa yang akan datang, tapi menurut saya, kurang tepat kita membicarakan hal itu pada masa-masa sekarang. Karena yang dibutuhkan TOBASA saat ini bukan soal regenerasi pemimpin, tapi masalah tidak adanya pemimpin Tobasa yang peka akan kebutuhan masyarakat Tobasa sendiri. Dan Menurut saya pemimpin2 di Pemerintahan Tobasa masih banyak yang kurang kompeten dalam bidang pekerjaannya masing-masing.
Sebagai contoh :
Pada akhir2 ini, terutama pada musim kemarau seperti sekarang ini, sering kita dengar petani yang berada di sekitar danau toba termasuk yang di Pulau Samosir Sendiri mengalami gagal panen karena kekurangan air.
Menurut saya, hal ini sesuatu yang sangat menyedihkan sekaligus sesuatu yang lucu. Mengapa saya mengatakan lucu? Bagaimana tidak lucu, daerah dikelilingi air yang sangat banyak yaitu Danau Toba, bisa mengalami kekurangan air. Padahal, seandainya pemerintah peka, mereka dapat membangun kincir angin di sekitar daerah pertanian dipinggir danau toba, bahkan di area danau Toba Sendiri. Kincir ini bisa digunakan untuk memompa air dari danau toba ke saluran irigasi pertanian masyakat. Hal ini saya anjurkan karena tingkat kecepatan angin di sekitar danau Toba cukup Tinggi. Dan Kincir ini juga dapat dipakai untuk menghasilkan listrik bagi masyarakat sekitar.
Sekarang, yang jadi masalah, mau nggak pemkab Tobasa membangun kincir ini? Karena bila dilihat dari biayanya, memang cukup mahal untuk kantong perseorangan, tapi saya kira cukup murah bagi pemkab Tobasa.
Tapi saya cukup pesimis kalau pemkab Tobasa mau melakukanya, karena yang ada dipikiran pemerintah sana, cuma mau meraup keuntungan sendiri.
Bila bapak/ibu yang ada di pemkab Tobasa merasa tersinggung, tdk usah banyak komentar? cukup buktikan saja kalau pendapat saya soal Pemkab Tobasa salah? ok?
Sebelumnya, saya minta maaf bila pendapat saya terlalu keras, dan menyinggung BapaK/Ibu.
Salam hangat,
Elfrido Hutagaol.
wah saya lihat saat ini pemimpin batak sudah semakin sulit….tidak nasionalis lagi…kalo istilah bung Karno…..jadi saya mengharapkan kedepan baik di Kab. Samosir, Kab. Taput, Kab. Tobasa dan Kab. Humbahas agar para pemimpinya meninggalkan politik marga tapi mari lah kita dalam menggerakkan pembangunan menggunakan Kebijakan yang Nasionalis (Nationalist Policy) bukan justru penggerakan pembangunan yang berdasarkan Politik Marga (Fam Politics)…….mohon lah agar kita membangun bona pasogit dengan berlandaskan hati nurani yang luhur dan tetap berdiri di atas konteks kemanusiaan akal sehat (common sense) dan Kebinekaan yang Tunggal……..Merdeka……Indonesia satu….Horas……!!!!
saya memang bukan berasal dari toba. kampung saya adalah lumban dakka (pearaja) tarutung, tetapi bunda yang melahirkan saya berasal dari sidaludalu, samosir.
saya merasa prihatin atas permasalahan di kabupaten tobasa ini, terutama masalah pengairan untuk persawahan. sebenarnya masalahnya sederhana, yaitu, kepala daerah yang minus gagasan, sehingga tidak punya solusi atas masalah ini. setidaknya ada 2 hal yang bisa dilakukan :
1. alirkan air dari danau toba
2. kalau tidak mampu melakukan point 1, pelajari metodologi pertanian padi
untuk lahan kering ( minim air ).
3. kalau tidak mampu melakukan ke 2 hal di atas, lakukan point 4
4. mundur secara kesatria dari jabatan anda, setidaknya itu lebih terhormat.
kalau saya perhatikan, hal yang saya sarankan tadi tidaklah sulit untuk dilakukan, tergantung ada tidaknya “goodwill” sang pemimpin. saya khawatir, para pemimpin di daerah sekarang ini adalah orang – orang yang merasa dirinya raja yang harus dilayani, bukan menjadi pelayan masyarakat. cuma untuk mencari keuntungan pribadi dan kelompoknya semata. kemakmuran rakyat hanyalah sebatas wacana ketika masa kampanye, yang sifatnya untuk memikat pemilik suara saja. ketika sudah terpilih, tidak mampu mengentaskan masalah yang sudah dari dulu seharusnya sudah selesai. seperti yang saya katakan di atas, sang pemimpin, tidak punya gagasan, demikian juga dengan para kepala dinasnya, khususnya kepala dinas pu dan kepala dinas pertaniannya (khususnya untuk masalah kekeringan yang sedang saya bahas di atas. masih banyak lagi masalah yang lain yang juga tidak selesai). mereka dipilih bukanlah karena kemampuannya, tetapi karena kekerabatannya. kasihan sekali nasib para petani yang terus menerus miskin, dikarenakan para pemimpinnya tidak punya hati dan tidak perduli. kalau kita lihat, begitu banyak gelar kesarjanaan yang mereka tempelkan mengapit namanya. saya ragu apakah mereka tahu apa arti “sarjana”? saya jelaskan:
sar : penolong
bejana: suatu wadah
maka sarjana artinya : setiap orang atau banyak orang yang mampu menjadi penolong bagi setiap orang di sekelilingnya. kalau tidak mampu menolong atau setidaknya memiliki gagasan, tanggalkan gelar kesarjanaan anda, karena kalau tidak, itu cuma menjadi beban berat bagi anda, karena tidak sesuai untuk anda miliki, dan bagi orang lain, hal itu cuma akan menjadi hal yang menggelikan.
saya mampu mengatasi masalah di daerah anda, tetapi saya bukanlah pemimpin di kabupaten tobasa. gagasan saya akan saya tuangkan ketika saya menjadi kepala daerah tapanuli utara menggantikan ampara saya torang lumban tobing. saya akan memimpin rakyat dengan penuh cinta dan kesungguhan, persis seperti yang telah diajarkan Sang Maha Guru saya : Jesus Kristus. saya akan titipkan juga program ini untuk seseorang yang akan mencalonkan diri menjadi menjadi bupati tobasa pada tahun 2015. dia adalah seorang yang sangat rendah hati, santun, tegas, berwibawa, berkharisma, dan penuh dengan gagasan cemerlang. saya menenal dia cukup lama, dia adalah ir. jainur manurung, mm