Ulah Oknum Wartawan dan LSM Pemeras di Sekolah Tobasa
Januari 15, 2010

Dana sekolah dan BOS
“Jumlah uang yang diminta cukup besar, kalau kami tidak memberikannya diancam oleh yang bersangkutan,” ujar salah satu pimpinan sekolah itu pula. Menurut kepala sekolah dan guru di beberapa SD, SMP maupun SMA di beberapa tempat di Tobasa, termasuk di Balige dan Humbang Hasundutan, ulah oknum mengaku wartawan dan aktivis LSM itu selalu berulang sepanjang tahun. Oknum seperti itu, baik sendiri-sendiri maupun berombongan beberapa orang, secara rutin setiap tahun atau antara 3-6 bulan rajin mendatangi sekolah-sekolah bersangkutan.
Modusnya, menurut beberapa kepala sekolah dan guru, mereka datang mengatasnamakan wartawan atau LSM tertentu untuk menanyakan informasi pencairan dana BOS dan proses seleksi siswa baru serta berbagai pungutan di sekolah bersangkutan.
Tapi buntutnya, oknum itu hanya bertujuan meminta sejumlah uang kepada pihak sekolah. Kalau tidak diberikan, mereka memberikan ancaman macam-macam, seperti masalah di sekolah itu akan “dikorankan” atau dipersoalkan oleh LSM tersebut untuk dibeberkan secara terbuka kepada masyarakat.
Kendati begitu, tidak sedikit kepala sekolah dan guru yang kedatangan “tamu tidak diundang” itu berani bertindak tegas dengan “menantang” untuk mengadukan mereka kepada organisasi pers atau ke polisi. Tapi tidak sedikit pula pihak sekolah akhirnya memberikan sejumlah uang –dengan biasanya lebih dulu terjadi tawar menawar– kepada oknum-oknum tersebut.
Sebelumnya, Sekretaris Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Indonesia di Balige, Gino Vanollie mengingatkan agar para kepala sekolah maupun guru dan pengurus Komite Sekolah atau pengelola satuan pendidikan lainnya, tidak perlu takut menghadapi para oknum wartawan dan LSM yang bertujuan memeras dan minta uang seperti itu.
“Layani saja baik-baik, kalau tujuannya hanya untuk minta uang jangan takut menanyakan identitasnya kemudian kalau tetap mau memeras dan minta uang, laporkan saja ke polisi,” kata Gino lagi. Menurut dia, tidak ada alasan pihak sekolah yang telah bekerja dengan baik dan menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya dapat ditakut-takuti oleh oknum wartawan dan LSM seperti itu.
Tapi Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sumut juga mengingatkan agar masyarakat termasuk para kepala sekolah maupun guru agar lebih berani saat menghadapi oknum mengaku wartawan yang datang ke sekolah atau instansinya untuk meminta sejumlah uang atau tujuan di luar urusan pemberitaan lainnya.
“Wartawan itu menjalankan tugas jurnalistik, kalau datang tujuannya bukan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan, tak perlu dilayani dan kalau minta uang paksa atau memeras, sebaiknya segera laporkan kepada polisi terdekat,” kata koresponden Harian Sinar Indonesia Baru itu pula.
AJI Sumut, menurut Juwendra, mensinyalir di daerahnya saat ini semakin banyak berkeliaran oknum wartawan maupun mereka yang mengaku wartawan namun tidak menjalankan tugas jurnalistik sebagaimana mestinya, melainkan kerap melakukan perbuatan tidak terpuji di tengah masyarakat.
Dia mengharapkan, masyarakat apalagi kepala sekolah dan guru maupun aparatur pemerintah di daerahnya untuk tidak perlu takut mengambil tindakan tegas saat berhadapan dengan oknum wartawan atau mereka yang mengaku wartawan seperti itu.
“Masyarakat luas harus ikut membantu memulihkan citra pers di Tobasa yang belakangan tercemari dengan ulah para oknum wartawan yang melakukan perbuatan buruk itu,” kata Juwendra lagi.








Kalau kita benar dan transparansi uang benar-benar disalurkan menurut saya tidak perlu takut dengan wartawan dan LSM. Tendang saja suruh pulang, tetapi yang saya ragukan kalau uang tidak benar-benar kita perlakukan dengan baik, maka disinilah, kesempatan wartawan Dan mengatasnamakan LSM mengambil kesempatan untuk memeras karena mungkin di pikiran mereka, kalau oarng yang mengurus dana BOS tidak jujur maka kami akan dapat bagian dari ketidak jujuran mereka. istilah iklan JERUK MAKAN JERUK. Karena menurut pengalaman saya waktu bekerja di Nias, sebagai orang lapangan Caritas Austria dalam menyalurkan bantuan ke pada masyarakat. Ada yang mengatas namakan wartawan meminta uang kepada kami tetapi kami menolak dengan mentah-mentah, dan menyuruh wartawan tersebut pulang. Tetapi wartawan tersebut mengancam kami akan memasukkan kekoran, tetapi kami tidak takut karena kami benar. Akhirnya kami tidak tahu nasib wartawan tersebut karena dia menghilang bagai di telan bumi. Sekali lagi para pengelola sekolah’ KALAU KITA BENAR DAN JUJUR TIDAK PERLU TAKUT’ semoga orang yang mengurus dana BOS membaca komentar saya. (RIDUAN PAKPAHAN)
Kenapa harus takut kalau memang benar? Usir saja mereka, biasanya itu dilakukan oleh wartawan / LSM bodong. Tapi perlu juga diingat, anda-anda pengelola juga harus jujur tk menggunakan dana tersebut untuk tujuan yang sebenarnya… Kalau tidak, matilah kau dikejar-kejar para setan-setan gentayangan itu…
menangkan kaliber untuk menjadi caon bupati tobasa periode 2010
sukses untuk kaliber
Dana bos harus diberikan pada yang berkewajiban untuk menerimanaya, kalau tidak ada penyimpangan dalam penggunaannya jangan dilayani, entah siapapun itu jangan takutlah takut. siapa benar jadi pemenang,,
Tetapi kalau yang namanya calon bupati ditobasa jangan asal pilih .Seperti penerimaan cpns kemarin harus menyediakan uang 150 jutaan baru bisa lolos, jadi kalau memilih bupati janganlah asal pilih mereka harus membayar juga baru kita pilih,, untuk ini kita harus membuat besaran yang harus mereka bayar baru kita pilih, Rp 200 juta per orang baru dipilih
makanya bpk ibu jgn cita2kan keturunan kita jadi pns. itulah kerjaannya takut melaporkan keadaan karena ikut di dalam juga. wartawan, lsm yg benar adalah tangan di atas. mauliate.
korupsi bisa menjadi “tambul” nia angka laenta nadi lapo tuak…. juga bisa menjadi “Proyek” bagi teman2 “pencari berita”, …..menjadi “peluang” bagi “pelaksana pemerintahan”, ……menjadi tugas “pencari fakta” atau “pansus” dan akhirnya menjadi santapan “elit politik”, yang semuanya mempunyai kepentingan dan “keuntungan” masing2….ina mai definisi ni “Korupsi” dalam arti luas>>>>>>bravo Indonesia…horas ma tobasa..
[...] di sisi lain, kehadiran LSM tak jarang jadi bahan olokan. Seperti yang pernah diberitakan seputar LSM pemeras di sekolah tobasa. Ini karena di antara LSM ada yang tidak jelas orientasi, visi dan misinya (kalaupun ada cuma [...]
Lsm atau Wartawan yang terima uang karena terindikasi ada kasus penyimpangan yang terkaper untuk tidak diungkit, menjadi pelaksana borongan, ataupun menerima sesuatu atau janji, tidak ada hukum yang dapat membela kebenarannya itu. Kalau ada yang demikian, seharusnya langsung dilapor ke kejaksaan biar dimampusin.
Yang jelas bahwa fungsi, visi, dan misi LSM tidak lain adalah sebagai sosial kontrol, sosial sebagai masyarakat dan sosial sebagai penyelenggara pemerintahan. LSM dan Wartawan jangan hanya mengontrol tugas, kewajiban, dan tanggung jawab penyelenggara pemerintahan, juga tugas, kewajiban, dan tanggung jawab masyarakat itupun harus di kontrol apa sudah berjalan dengan baik. Jangan tanyakan uang kalau anda mau jadi LSM, karena anda secara swadaya dituntut harus mampu menciptakan sumber uang dengan mengajak masyarakat untuk berkarya melalui program yang lsm ciptakan. Yang pada akhirnya menjadi mitra dengan pemerintah/pemda untuk mewujudkan Indonesia makmur. Kalau mau ikutan menjadi pemborong, baca Kepres 80 thn.2003, anda diperkenankan untuk itu tapi harus dengan aturan main, dang adong alani jago.
LSM atau Wartawan yang mendiamkan kasus dan mendapatkan nikmat, adalah lebih sadis dari pejabat yang korup. Horas !!!
LSM dikampung halaman kita ini kayak Koruptor cilik yang kehausan akan mata uang,,,segala cara dipakai untuk mendapat uang,,
Mau bagaimana maju cara yang dipakai sistem OGAP,,kalau cuma mangogap ajannya binatang aja bisanya.Benahi dirimu LSM terutama LSM Tobasa sama LSM kab,samosir
Itulah kebanyakan yang terjadi di daerah2 terpencil, wartawan dan juga LMS mengajak dan bahkan memaksa aparat pemerintahan untuk bekerja sama mengahabiskan anggaran yang ada. mau dibawa kemana negara ini nantinya??
LSM harusnya mengawasi dan mengontrol kinerja pemerintahan, bukan malah ikut membujuk atau meminta bagian dari sebagian dana yang ada..
hancur negara kita ini lama-lama kalau tidak ada perubahan AHLAK manusia Indonesia yang kita cintai ini.
Kejadian seperti ini bukan hal yang baru dan sudah lama terjadi di ex kab.Tapanuli Utara yang sekarang sudah terbagi beberapa kabupaten bukti ini menyakini moral aparat yang korup jadi jangan hanya Wartawan dan LSM tetapi bias ini akibat dari korupsi gotongroyong makanya daerah kita selalu tertinggal setiap bantuan habis dimakan rayap,lihat saja apa ada yang maju mulai jalan dan bansos tidak bisa dinikmati dan diserap pleh warga
Mau bagaimana maju diotak hanya uang dan uang,,bukannya melakukan pekerjaan bagus tapi mencari segala cara untuk mempertebal kantong.
Molo naeng maju bangso bataki, mari melayani dengan sungguh untuk kepentingan bangsa dan masyarakat. Bukan untuk kepentingan kelompok / Partai / pribadi.
Pilih lah pemimpin yang bermoral dan bertanggungjawab.