Ulasan Seputar Masyarakat dan Lingkungan Toba dan sekitarnya

Terjadi di Kabupaten Tobasa, 18 ribu ekor Ikan Nila mati mendadak diperkirakan kerugian sebesar Rp.50 juta lebih.

Agustus 8, 2008

>> ditulis oleh Ivan Napitupulu Blogger Batak sian Tobasa <<. Dusun Huta Batu, Media Online Bersama Toba dot Com – Hanya 15 unit Keramba Jaring Apung terdapat ikan Nila sejumlah 18.000 ekor atau 3.600 Kg, mati mendadak sehingga diperkirakan total kerugian sebesar Rp.50.400.000.-, Ikan Nila itu milik masyarakat Dusun Huta Batu, Desa Lumban Holbung Kecamatan Uluan Kabupaten Toba Samosir.
gbr-ikan-a.JPG
Hal ini terjadi pada tanggal 30 Juli 2008 di Keramba Jaring Apung atau KJA. Pemilik KJA tersebut adalah,
Horas Sirait dengan jumlah kerambahnya 3 unit, jumlah ikan yang mati 3000 ekor atau 600 kg dengan kerugian sebesar Rp.8.400.000.-

Kemudian Sahat Sitorus, jumlah keram 2 unit dengan ikan yang mati 2.250 ekor atau 450 kg dengan kerugian sebesar Rp.6.300.000.-

Jonni Sitorus, jumlah keramba 4 unit dengan ikan yang mati 6.000 ekor atau 1.200 kg dengan kerugian sebesar Rp.16.800.000.-
Saulina Manurung, jumlah Keramba 5 unit dengan ikan yang mati 5.250 ekor atau 1.050 kg dengan kerugian sebesar Rp.14.700.000.-
dan Daulat Sigalingging memiliki satu keramba dengan jumlah ikan yang mati 1.500 ekor atau 300 kg dengan kerugian sebesar Rp.4.200.000.-

Staf Dinas pertanian, Perikanan dan Peternakan, PPL dan Camat Uluan telah turun kelapangan, dari pengamatan mereka diperoleh data-data sebagai berikut,

KJA yang terdapat disekitar lokasi sebanyak 78 unit dan yang mengalami kematian ikan sebanyak 15 unit.
Kemudian, gejala kematian ikan Nila tersebut secara missal dan pada lokasi tertentu. Berdasarkan pengamatan pada sirip, sisik dan insang tidak menunjukkan gejala penyakit, lantaran ikan kelihatan segar dan tidak ditemui luka. Ukuran ikan berkisar antara 200-250 gr per ekor.

Untuk memastikan penyebab kematian ikan, telah diambil sample ikan untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Ikan, Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Utara Medan.

Selanjutnya, untuk mengurangi beban masyarakat akibat musibah kematian ikan bila memungkinkan akan diberikan bantuan. Mengingat pada Tahun Anggaran 2008 tidak ada kegiatan bantuan benih pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kab.Tobasa maka Dinas terkait disarankan agar kegiatan ini dapat dialokasikan pada P-APBD 2008.

Tulisan berhubungan lainnya yang mungkin ingin anda baca:

Penyusunan dan Pencetakan KTSP di Dinas Pendidikan Tobasa, disinyalir praktek KKN.
>>Pagu indikatif Rp.120 juta, Daftar Pengguna Anggaran Rp.17.640.000.- >>Masing-masing Sekolah se Toba Samosir, disalurkan sebesar Rp.60 ribu (“Foto, PPTK Ridwan Sitorus S.pd

Batalkan, Tender Asuransi Rp.750 juta di DPRD Tobasa, diduga belum ada Perda.
>>Pengadaan Asuransi Kesehatan Tobamas TA.2008 ditunda, belum ada Perda >>Pengadaan Asuransi DPRD Tobasa T.A 2006, penunjukan langsung Balige, Kantor DPRD Tobasa, Media online Bersama Toba dot Com

PT.Toba Pulp Lestari (PT.TPL) tunjukkan kehebatannya : “bagi-bagi uang kesejumlah wartawan se Toba Samosir.!”
PT.Toba Pulp Lestari (TPL) di SosorLadang Porsea Kabupaten Toba Samosir-Sumatera Utara, selasa (6/5) mendadak mengumpulkan sejumlah wartawan yang bertugas di Toba Samosir dengan membagi-bagi

Kasus Dugaan Korupsi di Bagian Umum Pemkab.Tobasa, “sepertinya jalan ditempat”
Pegawai-pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintahan Kabupaten Toba Samosir Propinsi Sumatera Utara sepertinya sudah was-was untuk melaksanakan kegiatan proyek maupun kegiatan sosialisasi dilingkungan Pemerintahan

Lumban Silintong, percontohan menuju Objek Wisata.
>>Tingkat Ketrampilan pengaruhi kesejahteraan >> Ahli sulaman didatangkan dari Tasikmalaya. Ny. Intan Monang Sitorus Br. Marpaung (Ketua TP PKK Kabupaten Tobasa/Ketua Dekranasda Kab. Tobasa) melakukan pembinaan

Komentar

One Response to “Terjadi di Kabupaten Tobasa, 18 ribu ekor Ikan Nila mati mendadak diperkirakan kerugian sebesar Rp.50 juta lebih.”

  1. Toeti P on Desember 9th, 2008 08:01

    Saya tidak tau apakah masalah Ivestor dari Singapura sudah clear atau belum, itu masalah “penanaman jagung” yg tiba2 menghilang dari lapangan. “Siapa yg salah?” Saya pikir tidak usah menanyakan itu. yg kita tanyakan adalah “Mengapa itu terjadi?” Ini adalah “PR” untuk Dinas Pertanian Perikanan Dan Peternakan dan pemerintahan TOBASA.

    Begitu juga masalah yg dihadapi oleh masyarakat Dusun Huta Batu ini, sudah seharusnya cepat diselesaikan . Bagaimana mengantisipasi dan solusi untuk itu.

    Seharusnya Anggaran APBD harus dibagi untuk semua aspek. “Bantuan benih ikan tidak ada di APBD???”
    Kita tau bahwa mata pencaharian masyarakat TOBASA adalah banyak berasal dari pertanian ,perikanan dan peternakan . Sudah seharusnya pemerintahan daerah memperhatikan dan meningkatkan kualitas sumber pendapatan masyarakat tsb.

    Ok. Kalau anggaran APBD thn 2008 tidak mengikutsertakan adanya “Bantuan Benih Ikan ” , tolong masukkan pada anggaran APBD 2009 nanti.

Berikan komentar dan masukan anda





Silahkan bergabung dan berdiskusi dengan pengunjung Bersamatoba.com lainnya di Forum Bersama Masyarakat Toba

Majalah Luar Negri Gratis
Gambar danau toba batak