Anak sebagai mata rantai, penghubung antara Dunia saat ini dan yang akan datang.
Agustus 26, 2008
>> Ivan Napitupulu Blogger Batak par Balige, Toba Samosir, Media online Bersama Toba dot Com – Sedikitnya 150 orang peserta yang mengikuti seminar yang terdiri dari para kepala Puskesmas, Ketua dan Pengurus PKK kecamatan, kader-kader posyandu dan PWKI kecamatan serta petugas penyuluh KB se-Kab.Tobasa.
Seminar itu merupakan langkah antisipasi bagi kita untuk memahami bagaimana agar anak-anak terhindar dari berbagai aktifitas yang dapat mengancam masa depannya. Hal itu disampaikan Krisostomus Siahaan Asisten II Sekdakab Tobasa, dalam kata sambutan Bupati Tobasa, pada acara Seminar Pembentukan Anak yang Kreatif dan Berkualitas.
Kristomus Siahaan mengatakan, kehadiran anak-anak ditengah-tengah keluarga merupakan amanah dan karunia Tuhan yang senantiasa harus dijaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak azasi sebagai manusia.
Masa kanak-kanak adalah masa emas dan keberadaannya juga sebagai mata rantai penghubung antara dunia saat ini dan dunia akan datang.
Dalam kesempatan seminar itu, Dokter Martuani Hutabarat Spdg dari Rumah Sakit Umum Daerah Parparean Kecamatan Porsea mengatakan bahwa datangnya gizi dari ibu turun kepada bayi. Gizi itu adalah ilmu yang mempelajari kebutuhan hidup manusia, dan tidak dinilai dari harga dan penampilannya oleh karena itu pengetahuan ibu tentang gizi harus diutamakan merawat kehamilan dengan baik mengkomsumsi gizi yang seimbang.
Kemudian Dahlia Simanjuntak mengatakan agar jangan bayi dipuasakan dan diingatkan agar Bayi yang baru lahir diberikan ASI secepat mungkin setelah lahir dan untuk itu bantuan Bidan sangatlah diharapkan.
Bukan itu saja seorang pembicara dari Universitas Nommensen Medan R.Pasaribu S.Psy mengatakan jika orang tua mengalami kesulitan dalam mendidik boleh mendapat layanan Psikologi. Anak penurut berubah memnjadi pembangkang itu bias terjadi karena ada sesuatu konflik dalam dirinya untuk yang seperti itu perlu digali melalui teman akrabnya atau keluarga yang dekat dengannya.(*)







poto siapa itu bang yg bawa karung?
Foto tukang botot nya itu
Wkwkwkwkwk… Poto tukang botot bah… Kejam ma ho bang…
Oiya dah di Link blog ini ya bang. Sukur2 mau di link balik. Tapi kayaknya nggak di link balik deh
Ok beres kedan. dah di tendang balik, salto pun
keccil keccil udah marbotot-botot. itulah … bapaknya cuman tau menggenjot aja… tak ada modal untuk biaya anak… gimana ini?
foto anak kecil itu…!!!, bukan orang batak kan lae ?… aduh…
Dang dibereng hamu foto na di toru i? Lagi marsiajar ibana
Foto anak kecil yang bawa karung itu sangat mengiris hati. Sekarang ini, banyak suku batak yang menjadi pemulung seperti itu. Disebabkan orangtua yang tidak ada tanggung jawab. Terlebih para orangtua lelaki (Bapak2) orang batak yang terkenal penghuni setia kedai tuak. Sementara anak dan istri sibuk mencari nafkah.
Gimana teman-teman? Apakah pendapatku ini benar?
Foto anak kecil itu memang sedih tapi jangan lah menyalahkan orang tuanya dong. tapi coba pahami dululah beragam kehidupan ini. Bisa saja orang tuanya sudah sangat berbeban berat memikirkannya. Tapi orang hanya bilang kasihan ya, tanpa membantu. Jadi dimana rasa kasihannya?
Memberi belum tentu karena kasih, tapi KASIH sudah pasti memberi.
Teruslah berjuang adik kecilku, sebab hari esok tiada yg tahu.
Bah, nga maubf on… Kalau image Orang batak sudah berubah mjd pemalas dan penghuni lapo tuak, masih bangga gak ya kita jadi orang Batak?
Wakakakakakak
Kalau bukan orang tua, siapa lagi? Kecuali atas kemauan si adik kecil itu sendiri ya…. Bisa saja saat dia memulung, ayahnya sedang asyik di lapo tuak dan sedang marjuji. Hal ini kan sudah tidak menjadi rahasia lagi.
Bukan berarti kita jadi malu menjadi orang batak karena hal itu. Tapi untuk generasi muda sekarang ini, marilah kita merubah kebiasaan buruk tersebut.